Rabu, 17 Desember 2014

The Dilema Of Counselor

“Lihatlah kemari wahai gelap malam. Lihatlah seorang yang selalu pandai menjawab pertanyaan orang lain, tapi dia tidak pernah bisa menjawab pertanyaan sendiri. Lihatlah kemari wahai lautan luas. Lihatlah seorang yang selalu punya kata bijak untuk orang lain, tapi dia tidak pernah bisa bijak untuk dirinya sendiri.”
           
            Di salah satu bagian dalam novel Rindu karya Tere Liye, dikisahkan seorang ulama besar bernama “Ahmad Karaeng” biasa di sebut dengan gurutta’, beliau berasal dari kota daeng Makassar. Beliau adalah orang yang sangat disegani karena ilmunya, begitupun dengan karisma yang memancar dari luasanya pemahaman tentang kehidupan. Tapi sayang, gurutta yang selalu mampu memberikan jawaban dan petuah untuk orang lain pun memiliki pertanyaan besar, namun tak mampu ia ungkap. Hal yang mengganjal dalam hatinya, adalah karena ia mampu menyeruh tapi tak melaksanakan, mampu melapangkan tapi tak merasa lapang. Inilah salah-satu contoh gejala kemunafikan.

Sebab Akibat

Suatu kali aku sangat membenci sebuah sebab,
dan menanyakan mengapa ia harus selalu ada mengawali sebuah akibat.
Datang dan menodai secara sempurna apa yang tadinya dapat suci dan murni.

Tidak semua peristiwa butuh sebab akibat.
Seperti halnya cinta,
yang tak butuh sebab kemudian hadir,