Rabu, 17 Desember 2014
The Dilema Of Counselor
“Lihatlah kemari wahai gelap malam. Lihatlah seorang yang selalu pandai menjawab pertanyaan orang lain, tapi dia tidak pernah bisa menjawab pertanyaan sendiri. Lihatlah kemari wahai lautan luas. Lihatlah seorang yang selalu punya kata bijak untuk orang lain, tapi dia tidak pernah bisa bijak untuk dirinya sendiri.”
Di
salah satu bagian dalam novel Rindu karya
Tere Liye, dikisahkan seorang ulama besar bernama “Ahmad Karaeng” biasa di
sebut dengan gurutta’, beliau berasal
dari kota daeng Makassar. Beliau
adalah orang yang sangat disegani karena ilmunya, begitupun dengan karisma yang
memancar dari luasanya pemahaman tentang kehidupan. Tapi sayang, gurutta yang selalu mampu memberikan
jawaban dan petuah untuk orang lain pun memiliki pertanyaan besar, namun tak
mampu ia ungkap. Hal yang mengganjal dalam hatinya, adalah karena ia mampu
menyeruh tapi tak melaksanakan, mampu melapangkan tapi tak merasa lapang. Inilah
salah-satu contoh gejala kemunafikan.
Sekalipun
benar bahwa peristiwa diatas hanyalah karya sastra yang bersifat fiktif, tapi
itu tidak kemudian mengurangi bobotnya dalam merefleksikan fenomena yang
terjadi di masyarakat. Hal ini diungkap oleh Roland Barthes, bahwa imajinasi
seorang penulis sastra berangkat (terinspirasi) dari realitas yang dihadapinya.
Karena karya sastra berasal dari pusat-pusat kebudayaan, dan kebuayaan terikat
oleh ruang dan waktu. Jika karya sastra berangkat dari apa yang dikatakan Barthes,
maka kisah gurutta di atas, akan
menjadi bayang-bayang yang menghantui para konselor maupun calon konselor
dekade ini.
Sebagai
orang yang bergerak dalam dunia bimbingan dan penyuluhan mental, saya ikut
merasa miris menyaksikan fenomena diatas. Belum lagi dengan fakta bahwa, jumlah
pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, perceraian, dan narkoba, kini semakin hari
semakin tinggi dan mencemaskan, yang diakibatkan oleh perubahan gaya hidup yang
melalaikan aspek spiritual. Tantangan tersebut semestinya diimbangi dengan peningkatan
kualitas pribadi maupun kemampuan individu yang bergelut dalam bidang perbaikan
sumber daya manusia. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, bahkan dalam buku The Dilema of Muslim Psychologists oleh
Malik B. Badri, Ph. D, dijelaskan bahwa orang-orang yang diminta membantu
menyelesaikan masalah kejiwaan, kini sama sakitnya dengan mereka yang
memerlukan bantuan. Terkadang para konsultan kejiwaan itu lebih sakit dari pada
pasiennya.
Ada
sebab yang mendasari turunya kualitas pribadi konselor maupun calon konselor
dekade ini. Seturut pribadi penulis, hal yang menjadi penyebab utama dari
permasalahan ini adalah hilangnya kesadaran terkait sebuah alasan. Tentu bukan
hanya dibidang bimbingan dan penyuluhan, tapi juga diseluruh bidang yang sedang
mengalami dilema, akibat menurunya kualitas dan kemampuan individu pada bidang yang sedang
digeluti.
Dalam
buku Alasanologi karya Jaya Suprana,
dijelaskan bahwa alasan yang berasal dari kata “alas” yang berarti fondasi atau
dasar, adalah hal yang sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan dan dalam
hidup yang dijalani. Sehingga situasi adalah cerminan dari alas yang ada.
Alasan dapat baik dan dapat pula buruk. Bentuk alasan tidak terbatas pada verbal
semata, namun juga nonverbal seperti sikap dan prilaku. Menemukan alasan sangatlah
penting untuk mendukung upaya pemecehan masalah yang ada.
Sesuai
apa yang dikatakan Jaya Suprana sebagai alasanologi, dengan kondisi pribadi
para konselor maupun calon konselor hari ini, tentu bisa dipahami bahwa, alasan
yang memainkan peranan dalam menentukan perilaku inilah yang tidak disadari
oleh para konselor maupun calon konselor. Kalaupun keadaran alasan itu ada, boleh jadi kesadaran
tersebut tidak begitu kuat, yang berdampak pada respon yang setengah, biasa,
dan tidak maksimal.
Sama
halnya dengan kondisi mahasiswa hari ini, dimana banyak mahasiswa lebih memilih
menghabiskan waktunya di café, membicarakan
hal-hal yang tidak penting, dari pada menghabiskan waktunya berdiskusi dan
membaca buku program studi, adalah cerminan dari fondasi, dasar, dan juga
alasan yang dimiliki mahasiswa tersebut. Andaikan mereka memiliki kesadaran terkait
sebuah alasan, tentu prilaku yang ditampakkan akan sesuai dengan tanggung jawab
yang saat ini mereka emban. Namun sayang, kurangnya kesadaran terkait sebuah
alasan, membuat mereka lalai dalam memaknai setiap pilihan dan perbuatan meraka sendiri, yang kembali lagi
berdampak pada hasil yang mengecewakan, yakni menurunya kualitas pribadi
individu pada bidang yang sedang tekuni.
Jalan
keluar yang ditawarkan tidak lain adalah penemuan alasan. Mari menemukan dan
memaknai alasan sejati, mengapa kita memilih dan melaksanakan sesuatu, agar kita
lebih sadar dan bijak dalam bertindak, menjalani tanggung jawab sesuai dengan
bidang yang ditekuni. Terkhusus untuk para konselor, konsultan, dan penyuluh
agama, baik maupun bobroknya kualitas hidup sember daya manusia, ada pundak
kita selaku orang yang bergulut pada bidang perbaikan dan pengembangan SDM.
Mari mawas diri!
Samata Gowa, 15 Desember 2014
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Twitter
Facebook

0 komentar ( +add yours? )
Posting Komentar