Senin, 13 Januari 2014
Habis Gelap Terbitlah Terang
“Wow” Saat mendengar kisah kak
Butet Manurung, ingin rasanya seperi dia memperjuangkan yang patut untuk
diperjuangkan. Menikmati hidupnya tanpa
lupa untuk berbagi. Man and Biosfer Award 2001
adalah salah-satu penghargaan yang telah kak Butet terima.
Kak
butet hadir di panggung Kick Andy, menebar senyum kepada setiap pononton yang
hadir dengan pembawaannya yang simple. Oyah, senyumnya seolah-olah menembus layar
televisiku loo… Hehehe...
Apa yang mendorong
kak Butet melakukan semua ini? Memilih menghabiskan waktunya di hutan
belantara. Jujur, sempat terbesit “Gila kali ni kakak. Kok, mau-maunya tinggal
dihutan, ieeuu.” Ehh ternyata ohh
ternyata, kak Butet memiliki hobi berpetualang. Dari kesukaan menjelajahi
alamlah yang membuatnya bertemu dangan
orang Kubu (sebutan untuk suku Rimba). Melihat kondisi suku pedalaman yang
sering dimanfaatkan kebodohannya oleh orang-orang kota, membuat kak Butet bertekad
untuk tinggal di hutan mengajarkan anak-anak pedalaman baca tulis dan berhitung.
Selain hobi bertualang, ternyata kak Butet masih punya beribu alasan untuk
tinggal di hutan, salah-satunya
“Bebas” kata kak Butet.
“bebas apa?” tanya Andy.
Ternyata bebas yang
dimaksud adalah bebas dari polisi, hahahaa. Emang
buronan neng? Hee..Selain itu kata kak Butet, bebas polusi, bebas makan apa
aja tanpa ngeluarin dompet, Ckckck. Tapi jangan salah, keluarga kak Butet amat
berkecukupan terbukti beliau lulusan universitas Australia. Pemikiran kak Butet
tak jauh beda dengan pembawaannya yang begitu sederhana. Baju yang kebesaran
atau badan yang kekecilan bukan masalah buat kak Butet.
“Sudah tiga belas tahun saya tinggal
di hutan” kata kak Butet. Buseedd
Tekad dan
kesungguhan kak Butet berhasil mengalahkan kata not be easy. Awalnya suku pedalaman sangat menolak niat baik dari
kak Butet, karena menganggap pendidikan adalah hal yang tabu dan bertentangan
dengan adat istiadat. Bahkan beranggapan bagian pulpen yang runcing adalah mata
setan, allammaak’. Setelah melalui berbagai
penolakan, salah-satunya dari orang tua anak yang diajari kak Butet, bertekad
ingin bunuh diri jika anaknya masih diajari oleh kak Butet. Tapi toh akhirnya,
habis gelap terbitlah terang. Setelah tujuh bulan lamanya kak Butet berjuang
demi mendapatkan penerimaan dan kepercayaan dari suku Rimba, kini yang
dicita-citakanpun tercapai.
“Katanya sempat mendapat larangan
dari orang tua?” Tanya Andy.
Yah, ternyata kak
Butet sempat mendapat jalan buntu ketika orang tuanya menentang keras keinginan
kak Butet yang ingin tetap bertahan di hutan. Sedangkan
kondisinya yang semakin memburuk. Waktu itu kak Butet terkena demam berdarah,
dan memang di hutan sangat terkenal dengan penyakit demam berdarahnya. Tapi
karena kak Butet bersikeras tak ingin pulang, akhirnya sang ibunda pun menyusulnya
ke hutan.
“Sangat kaget melihat ibu tiba-tiba
ada di hutan waktu itu. Tapi dari situ akhirnya ibu bisa mengerti, karena bisa
merasakan langsung nikmatnya berbagi dengan suku pedalaman. Ketika ibu menggantikan
saya mengajari anak-anak, sejak itu ibu bisa melihat kebahagiaan anak-anak yang
meloncat, memanjat pohon sambil teriak-teriak, horee-horee aku
bisa baca.” Kata kak Butet.
Kak Butet juga pernah mendapat ancaman dari
pembalak liar. Dikerenakan kak Butet berhasil membuat suku pedalam pandai
berhitung. Jadi pembalak liarpun kesusahan untuk membodohi suku pedalaman.
“Oy, Gimana dengan ancaman binatang
–binatang buas?”
“Ada tipsnya, tiap binatang beda cara
menghadapinya. Kalau beruang misalnya, kita harus menjat di pohon yang
batangnya sebesar tiang listrik. Karena kalu kebesaran beruang bisa ikut
manjat, tapi kalu kekecilan nanti roboh. Pernah saya dan anak-anak lagi
berburu, tiba-tiba terdengar suara beruang. Sontak, semuanya berlarian tapi
sayang ternyata pohon dituju semuanya sama, jadi pohonnya miring.” Urai kak Butet disambut
tawa penonton.
“jadi bagaimana dong?” Tanya Andy
penasaran.
“Gak tahu, tiba-tiba beruangya pergi
begitu saja” Kata kak Butet.
“Oooh, mungkin beruangya fikir
aahh,,, lebaya loo...” Ujar Andy membuat tawa.
Dari kisah kak
Butet, kita bisa mengambil sebuah pelajaran berharga loh teman-teman. Bahwa
hidup ini bukana hanya soal hobi kita, materi kita, kebahagiaan kita, tapi
lebih dari itu. Hidup bersama kebaikan itu indah dan mulia, tapi ikut andil
dalam kebaikan itu jauh lebih indah dan mulia. :):):)
Label:
SangPengInspirasi
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Twitter
Facebook

0 komentar ( +add yours? )
Posting Komentar