Senin, 13 Januari 2014

Sepenggal Kisah dari Wahyu


Jagung menjadi andalan pertanian warga desa Pojejer kecematan Gondang kabupaten Mojokerto. Tanaman jagung cocok diolah diladang yang kering seperti diwilayah Mojokerto. Sayangnya waktu panen jagung tiga bulan sekali, hal ini membuat penduduk desa harus memikirkan penghasilan lain sembari menanti saat panen tiba.

 Harga kebutuhan hidup bukannya kian turun, semuanya terus membumbung naik. Membuat usaha untuk bertahan hidup menjadi kian berat. Beban hidup memang tak pandang usia. Wahyu bocah kelas empat sekolah dasar, terlahir dan besarkan dari keluarga miskin. Sepatu yang dikenakan Wahyu tidak sesuai dengan ukuran kakinya. Apa adanya, Wahyu menjalani saja. Menggunakan sepatu bekas pemberian orang lain. Tak nyaman menggunakan sepatu yang tak sesuai kuran kaki. Seragamnyapun berbeda dengan teman-temanya. Asalkan masih bisa bersekolah untuk menggapai cita-cita, Semua itu dirasa tak lagi penting. Awalnya Wahyu merasa malu, itulah sebabnya Wahyu menjadi pendiam dikelas. Seringkali ledekan dan canda teman-temannya terasa begitu menusuk hati Wahyu.

Wahyu tak pernah kehabisan akal. Tali sepatunya yang panjang, cukup untuk mengikat sepatu kepergelangan kakinya. Agar tak terlepas dari langkahnya. Apadaya, tak ada rupiah untuk membeli sepatu baru.
Hidup miskin seringkali menyisahkan pedih. Manakala ia merasa begitu berbeda keadaanya dengan yang lain. Bagi Wahyu, seragam dan sepatunya masih layak pakai. Sembari menanti, siapa tahu kan ada rupiah untuk mewujudkan keinginannya. Wahyu hanya bisa bersabar.

Waktu panen jagung, datangnya sering tak bersamaan. Ada ladang yang sudah dipanen, dan ada pula yang masih harus menanti. Bagi Wahyu, pulang sekolah adalah saat yang dinanti, ia merasa begitu senang. Akan ada saatnya untuk mengais rupiah. Sisa jagung ini menjadi cara untuk bertahan hidup, sekedar untuk mengganjal perut nenek dan adik-adiknya yang lapar.

“Buat makan nenek dan adik saya, sebab nggak punya uang buat beli beras.”  Kata Wahyu.

Sisa jagung yang masih terdapat pada bonggolnya, akan ia bersihkan. Butirannya akan diolah menjadi nasi jagung. Tetangga sekitar Wahyu sudah paham dengan kondisi ekonomi Wahyu. Sejak kecil, Wahyu hanya tinggal bersama sang nenek. Kedua orang tuanya merantau, berusaha mencapai penghidupan yang lebih baik.

Sayang tak banyak sisa jagung yang ia kumpulkan. Seringkali ia yang panen jagung, begitu teliti membersihkan butiran jagung dari bonggolnya. Tentu bukan karena Wahyu dan keluarganya senang memakan nasi jagung. Bahkan, Wahyu merasa begitu rindu dengan rasa pulen dari nasi beras.

“Iya, kenapa si makannya nasi jagung, bukan makan nasi putih aja” Eluh Wahyu.

Nasi jagung harus diolah sedemikian rupa, agar enak untuk dimakan. Sulikah sebenarnya tak tega, membiarkan sang cucu makan nasi jagung. Namun, penghasilan Sulikah pun tak juga cukup untuk membeli beras dan kebutuhan yang lain. Sudah hampir tujuh tahun lamanya, Sulikah dan ketiga cucunya memilih untuk memakan nasi jagung, ia tak ingin menambah panjang daftar hutangnya ke warung.

“Sudah lama, Wahyu dari kecil sudah makan nasi jagung” Kata Sulikah.

Tiap kali menumbuk jagung, Sulikah tak kuasa menahan tangis. Keinginannya untuk memberikan makanan yang layak bagi ketiga cucunya belum dapat terwujud. Pedih hatinya, hanya untuk makan saja begitu sulit.

Keterampilan mengelola butiran jagung menjadi nasi, sangat membantu Sulikah untuk bertahan hidup membesarkan Wahyu dan dua adiknya. Jagung harus ditumbuk hingga halus. Sulikah sudah hafal benar, kapan tumbukan jagung harus diberi air, agar nikmat saat disantap.

Sulikah sering tak habis pikir, teringat suami yang pergi entah kemana. Suaminya tak pernah kembali, meninggalkan carut-marut ekonomi keluarga. Ia hanya bisa bersabar dan tawakkal, semoga ujian hidup ini cepat berlalu.  

Satu jam lamanya, proses membuat nasi jagung hingga siap disantap. Tak mengapa, setidaknya ada makanan yang masuk keperut sang cucu. Jagung yang sudah halus masih harus dikukus. Setelah dikukus jagung ini siap disantap

Tugas Wahyulah untuk menjaga kedua adiknya Dwi dan yang masih berusia enam tahun. Tugas di desa wajar saja adanya, bila seorang nenek yang bertugas membesarkan cucunya, sementara orang tuanya pergi mengadu nasip. Orang tua Wahyu pergi merantau dengan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Setidaknya ada peluang untuk mengirimkan sedikit uang untuk bertahan hidup. Sejak kecil Wahyu selalu mengikuti apapun yang sang nenek lakukan untuk mendapatkan rupiah.

“Iya, waktu nenek ke sawah nyari kunyit, saya ikut. Dan saya belajar caranya. Terus saya coba buat jamu sendiri. Lama-lama bisa sendiri.”

Berbekal pisau dan kantong plastik inilah Wahyu mencari tambahan kunyit yang tumbuh liar dikebun. Karena sudah sering melakukannya, membuat Wahyu mengerti tumbuhan kunyit seperti apa yang bisa Ia cabut. Dimusim penghujan sperti ini, biasanya tumbuhan kunyit lebih cepat tumbuh besar. Karena resapan iar membuat tanah lebih subur. Wahyu berharap, akan ada banyak kunyit yang Ia peroleh untuk dibuat jamu. Itu artinya, akan ada rupiah yang masuk kekantongnya. Beruntung, kunyit yang Ia dapatkan hari ini lebih banyak dari pada biasanya.

“Iya, kasian sama nenek, sebab jualan sendiri ditambah adik saya nakal. Ya sudah, saya belajar buat jamu, saya jual dan uangya saya kasihin ke nenek buat beli beras.”

Rasa lelah seolah tak pernah dirasa. Semangatnya untuk membantu meringankan beban sang nenek lebih besar. Sejak usianya sembilan tahun, Ia sedah terampil membuat jamu. Keberadaan jamu kunyit seperti ini, memang sudah jarang ditemukan. Di desa tempat Wahyu tinggal, sudah tidak ada lagi penjual jamu keliling. Karena itulah peluang untuk meraup rejeki dari berjualan jamu tak disia-siakan Sulikah dan Wahyu. Sulikah dan Wahyulah satu-satunya penjual jamu kunyit hingga kini. Demi lembaran rupiah yang tak seberapa, pekerjaan itu tetap Wahyu lakukan untuk menyambung hidup.

Cara meramu jamu, juga Ia pelajari dari sang nenek. Meskipun bikinannya belum lagi sempurna. Namun Wahyu berusaha sebaik mungkin, agar rasanya sama dengan buatan sang nenek.

“Susahnya itu pas ngupas, marut sama rebus, kalau marut itu pernah kena tangan. Kalau kunyit, kadang tangan saya kena kepotong sampai berdarah.”

Wahyu tak ingin kejadian beberapa minggu yang lalu terulang lagi. Jamu yang sudah matang, tumpah akibat ceroboh. Alhasil, Wahyupun tak bisa berjualan jamu. Itu artinya tak ada uang untuk ia berikan kepada sang nenek untuk membeli beras. Kala itu Wahyu sangat terpukul. Menjual jamu seperti ini biasanya memang dilakukan oleh kaum wanita dewasa. Sebagai anak lelaki, Wahyu tak peduli jika harus mendengar celoteh tetangga.

Tanpa alas kaki, Wahyu mencoba melawan panasnya matahari dan tajamnya kerikil. Bila Ia menggunakan sepatunya yang kebesaran, malah akan merepotkan saja. Pulang sekolah, menyusuri sudut demi sudut kampung ini, sudah menjadi kegiatan Wahyu selama dua tahun belakangan ini.

Dua ribu rupiah menjadi pendapatan pertama yang Ia kantongi siang ini. Meski demikian Wahyu tak cepat merasa puas, Ia mencoba mencari pembeli lain. Semoga saja masih ada rupiah yang bisa Ia dapatkan kali ini.

“Kalau jamunya ngak laku, diminum sendiri sama saya dan nenek, saya suka sedih.” Kata Wahyu.

Dulu Wahyu pernah memiliki sepatu yang pas dikakinya untuk bersekolah. Namun karena sering dipakai berjalan selama bertahun-tahun, sepatu miliknya itu jebol.

Belum lagi mampu membeli sepatu baru. Wahyu hanya memakai sepatu pemberian orang lain. Paling tidak masih ada sepatu yang ia gunakan untuk bersekolah. Mengantarkan Wahyu bersekolah, demi menggapai cita-cita.

“Ngak apa-apa sepatu saya kebesaran, yang penting bisa sekolah, bisa kejar cita-cita. Cita-citaku jadi dokter, supaya kalau nenek sakit saya bisa obatin nenek biar sembuh lagi.”

Berjalan dengan sepatu kebesaran memang tak mudah. Rasanya sepatu itu ingin terus terlepas dari kakinya. Selagi belum ada rupiah untuk membeli sepatu baru, maka selama itu pulalah Wahyu akan menambal ruangan kosong dikakinya dengan kain-kain bekas. Wahyu tak berani mengeluh pada sang nenek. Ia tak ingin sang nenek merasa bingung dan sedih.

“Saya sumpel pakai kaos kaki atau kain bekas biar enak dipakainya. Saya pakai terus saja sepatunya sampai bisa beli sepatu baru.”

Wahyu yakin, suatu saat nanti akan ada rejeki untuk membeli sepatu baru. Ia akan terus mengumpulkan rupiah demi rupiah. Harapan itu terus Ia pupuk dan berusaha Ia wujudkan.

Hidup susah seolah enggan pergi dari kehidupan Wahyu. Wahyu hanya bisa menjalani hidup apa adanya. Tanpa harus selalu mengikuti keinginannya memiliki sepatu baru. Kebahagiaan memang tak selalu didapat dari membeli barang baru. Melihat sang nenek tersenyum dan dua adiknya tertawa menjadi kebahagiaan batin bagi Wahyu dari pada tersiksa memikirkan sepatu baru.

“ Semoga nenek panjang umur, juga dapat rezeki biar aku bisa dibelikan sepeda dan sepatu baru, dan semoga tidak hidup susah terus.”

 Masa kecil yang dialami Wahyu memang berbeda. Tak ada waktu bermain bersama teman-teman. Tak ada dering sepeda yang bisa Ia rasakan, melengkapi keinginan masa kecil yang riang. Semua impian itu harus dipendam, mengingat kondisi ekonomi sang nenek yang tak mampu.

“Teman-teman bisa beli sepeda, aku ngak bisa, udah gitu nenek juga ngak punya uang.”

Wahyu hanya bisa melihat teman-temannya bermain. Untuk ikut merasakan naik sepeda, terkadang hanya menyisahkan sakit hati.

“Hi, aku pinjam sepedanya dong. Teman saya bilang, jangan! beli saja sendiri. Terus saya langsung pulang.”

Tak ada pekerjaan lain yang bisa Sulikah lakukan untuk mendapatkan rupiah. Membuat klanting inilah andalan Sulikah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Paling tidak masih ada yang bisa dilakukan Sulikah untuk menafkahi ketiga cucunya, dan ibunda tercinta dirumah.

Klanting adalah sejenis jajanan pasar khas Jawa. Dengan bentuk dan warna yang berbeda. Singkong yang diparut ini akan diperas. Ampasnya dicampur dengan terigu dan tepung ragi supaya kenyal. Setelah padat, Sulikah juga masih harus merebusnya supaya rasa singkong mentah hilang.

Tak ada gunanya meratapi nasibnya yang sengsara, ditinggal pergi sang suami, tak pernah kembali. menjadi tantangan tersendiri bagi Sulikah untuk tetap hidup.

Wahyu terkadang merasa bingung dengan keadaan yang ada. Bila kedua orang tuanya pergi mencari nafkah yang lebih baik. Mengapa sang nenek menjadi sedemikian repot. Merawat dan memikirkan uang untuk melanjutkan kehidupannya. Wahyu sering merasa tak tega melihat Sulikah bekerja keras untuknya. Wahyu hanya bisa saling menguatkan, membantu  segala hal yang Ia bisa. Tak ada cara lain, selain memeberi dukungan dan kasih sayang.

“ Kasihan lihat nenek, sudah tua masih kerja cari uang  buat beli beli beras. Saya ingin lihat nenek dirumah saja masak, ngurus adik saya, tidak kerja. Biar saya saja yang kerja.”

 Bergantung hidup dengan berjualan klanting memang tak dapat diandalkan. Namun itulah satu-satunya yang dapat Sulikah lakukan, mengingat usianya tak lagi muda. Sulikah bersyukur, setidaknya masih ada yang bisa Ia kerjakan untuk bertahan hidup. Mennafkahi ketiga cucunya, dan sang ibu. Lebih baik berusaha dari pada berdiam diri menanti belas kasihan tetangga. Bagi Sulikah kini, lebih penting bagaimana  caranya membuat dgangannya laku, semoga saja  lembaran rupiah yang Ia kumpulkan cukup untuk membeli beras dan lauknya.

Semangatnya yang besar ternyata harus kalah dengan fisik yang tak lagi kuat berjala lama. Delapan ribu rupiah yang Ia dapatkan hari ini. Sulikah tetap bersyukur, setidaknya masih ada rupiah untuk bertahan hidup hingga esok hari. Tak terasa perempuan berusia lima puluh enam tahun ini, merasa begitu sendiri menanggung beban.

“Uang susah dicari, kalau jualan jangan terlalu mahal.” Oceh tetangganya, kata Sulikah.

Jika sang nenek sedang berjualan Wahyulah yang bertugas menjaga kedua adiknya dirumah. Tak masalah, sebagai cucu paling besar, Wahyu tak keberatan melakukan itu semua. Dalam hati Wahyu berharap, semoga saja sang nenek membawa rezeki lebih hari ini. Melihat sang nenek pulang dengan selamat, membuat Wahyu merasa lega.

“Khawatir terjadi sesuatu sama nenek dijalan, takutnya tidak ada yang menolong. Saya senang kalau nenek sudah sampai rumah, berarti tidak terjadi apa-apa.”

Hidup boleh saja mengoyak mimpi dan harapan. Kebersamaan bersama orang-orang yang dikasihi seringkali menimbulkan kekuatan, keberanian, dan keyakinan untuk menantang hari yang berganti esok.

0 komentar ( +add yours? )

Posting Komentar