Sabtu, 02 Mei 2020

Dilema Sangkar Kasturi Bugis

Satu lagi karya cerpen yang berhasil mengangkat tradisi masyarakat bugis dalam dunia kesusastraan. Judul cerpen tersebut adalah Sangkar Kasturi Bugis, yang ditulis oleh Nurasiyah, mahasiswi semester tiga di Universitas Negeri Makassar. Cerpen ini bisa dibaca pada tulisan kolom cerpen, harian fajar edisi khusus Minggu, 21 Desember 2014.

Dalam cerpen tersebut dikisahkan seorang gadis remaja tanah bugis yang tidak dapat melanjutkan pendidikannya ke kota, karena ditentang oleh Puangnya. Gadis itu bernama Ruhaya. Alasan mengapa orang tua Ruhaya melarang anaknya ke kota, karena mereka takut anaknya akan terpengaruh pergaulan bebas yang kemudian akan memberikan siri’ bagi keluarga. Salah satu dialog yang memilukan dalam cerpen tersebut adalah perkataan Puang kepada Ruhaya “… Tak usah bersekolah tinggi-tinggi. Setinggi apapun sekolahmu, toh kamu  juga akan turun ke dapur…” miris menyaksikan fenomena adat dan tradisi yang masih berlaku di tanah bugis ini, yang apabila kita kritisi tentu sangat tidak sesuai dengan ajaran moralitas, padahal moral sendiri adalah prodak dari budaya dan keagamaan.

Rabu, 17 Desember 2014

The Dilema Of Counselor

“Lihatlah kemari wahai gelap malam. Lihatlah seorang yang selalu pandai menjawab pertanyaan orang lain, tapi dia tidak pernah bisa menjawab pertanyaan sendiri. Lihatlah kemari wahai lautan luas. Lihatlah seorang yang selalu punya kata bijak untuk orang lain, tapi dia tidak pernah bisa bijak untuk dirinya sendiri.”
           
            Di salah satu bagian dalam novel Rindu karya Tere Liye, dikisahkan seorang ulama besar bernama “Ahmad Karaeng” biasa di sebut dengan gurutta’, beliau berasal dari kota daeng Makassar. Beliau adalah orang yang sangat disegani karena ilmunya, begitupun dengan karisma yang memancar dari luasanya pemahaman tentang kehidupan. Tapi sayang, gurutta yang selalu mampu memberikan jawaban dan petuah untuk orang lain pun memiliki pertanyaan besar, namun tak mampu ia ungkap. Hal yang mengganjal dalam hatinya, adalah karena ia mampu menyeruh tapi tak melaksanakan, mampu melapangkan tapi tak merasa lapang. Inilah salah-satu contoh gejala kemunafikan.

Sebab Akibat

Suatu kali aku sangat membenci sebuah sebab,
dan menanyakan mengapa ia harus selalu ada mengawali sebuah akibat.
Datang dan menodai secara sempurna apa yang tadinya dapat suci dan murni.

Tidak semua peristiwa butuh sebab akibat.
Seperti halnya cinta,
yang tak butuh sebab kemudian hadir,

Jumat, 31 Januari 2014

Nilai Seorang Manusia


Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang paling tinggi, jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Ali-Imran [3]:139)

            Sahabat, sering kali kita temui teman-teman yang ada disekitar kita begitu tidak mensyukuri akan nikmat yang telah dianugrahkan Allah kepadanya. Dengan selalu menganggap dirinya sebagai manusia biasa yang tidak berharga, tidak punya apa-apa, dan mengatakan dirinya bukan siapa-siapa. Perasaan seperti itu telah membelenggu jiwa-jiwa mereka dikarenakan seringnya membanding-bandingkan diri mereka dengan orang lain. Salalu merasa kecil, mersa miskin, merasa minder, apalagi ketika melihat orang lain menyetir mobil, sementara dia menyetir sepeda butut misalnya. Bukankah itu berarti teman kita ini telah mengukur derajat dirinya dibawah uang? Sungguh mengerikannya, gara-gara uang, jabatan, pakaian, kita menghinakan diri kita sendiri, melecehkan Dia yang telah menciptakan kita dengan beribu banyak potensi yang luar biasa.

Memories Of Days #01

Kalau memang benar otak punya perasaan, maka saat ini yang dirasakan otakku hanya ada satu, yaitu terkubur. Hari ini berlalu tidak begitu saja, banyak polemik yang terjadi, walau sebenarnya polemik ini masih bernilai standar. Misalnya, polemik ingin memperbaiki diri tapi begitu tidak sabaran mencapai hasil. Ditambah lagi isi otak yang dipenuhi kata menyerah, hemmmm.

Hari ini hari minggu, aku bangun pukul enam lewat, tapi hanya untuk mematikan lampu, kemudian kulanjutkan tidurku. Pukul tujuh lewat kuterbangun lagi, merasakan saatnya bangun untuk memulai aktifitas. Kuawali dengan mengusap air diwajahku, agar ion-ion positif segera diserap alam sadarku. Dan ternyata benar, aku segera mengisi waktuku dengan membaca buku, buku itu tentang jiwa.

Senin, 13 Januari 2014

Habis Gelap Terbitlah Terang


“Wow”  Saat mendengar kisah kak Butet Manurung, ingin rasanya seperi dia memperjuangkan yang patut untuk diperjuangkan.  Menikmati hidupnya tanpa lupa untuk berbagi. Man and Biosfer Award 2001  adalah salah-satu penghargaan yang telah kak Butet terima.
Kak butet hadir di panggung Kick Andy, menebar senyum kepada setiap pononton yang hadir dengan pembawaannya yang simple. Oyah, senyumnya seolah-olah menembus layar televisiku loo Hehehe...

Sepenggal Kisah dari Wahyu


Jagung menjadi andalan pertanian warga desa Pojejer kecematan Gondang kabupaten Mojokerto. Tanaman jagung cocok diolah diladang yang kering seperti diwilayah Mojokerto. Sayangnya waktu panen jagung tiga bulan sekali, hal ini membuat penduduk desa harus memikirkan penghasilan lain sembari menanti saat panen tiba.

 Harga kebutuhan hidup bukannya kian turun, semuanya terus membumbung naik. Membuat usaha untuk bertahan hidup menjadi kian berat. Beban hidup memang tak pandang usia. Wahyu bocah kelas empat sekolah dasar, terlahir dan besarkan dari keluarga miskin. Sepatu yang dikenakan Wahyu tidak sesuai dengan ukuran kakinya. Apa adanya, Wahyu menjalani saja. Menggunakan sepatu bekas pemberian orang lain. Tak nyaman menggunakan sepatu yang tak sesuai kuran kaki. Seragamnyapun berbeda dengan teman-temanya. Asalkan masih bisa bersekolah untuk menggapai cita-cita, Semua itu dirasa tak lagi penting. Awalnya Wahyu merasa malu, itulah sebabnya Wahyu menjadi pendiam dikelas. Seringkali ledekan dan canda teman-temannya terasa begitu menusuk hati Wahyu.